Selamat Datang - DI Blog KATA BINTANG, tempat berproses dan berproduksi serta saling berbagi. Tempat yang nyaman dan saling menguatkan. Tempat para Bintang Memijar.

Poligami dan Persaingan Cinta Para Istri (Bagian 2)

 

Sementara Karang yang diam-diam berhubungan dengan seorang pria lain yang diakuinya sebagai dokter pribadinya pada setiap orang, suatu kali terkena jebakan Mega. Karang yang tertangkap basah di sebuah kamar hotel bersama dengan sang dokter kemudian disekap oleh orang-orang suruhan Chen hingga akhirnya Karang mati setelah diceburkan hidup-hidup ke dalam sumur di taman belakang yang disebut Sumur Kematian. Sumur untuk menghukum para istri yang berselingkuh.

Teratai yang sangat peka dan cerdas diam-diam mengikuti proses eksekusi Karang. Ketika Teratai benar-benar menyadari bahwa Karang diceburkan ke dalam sumur dalam keadaan mulut dibekap dan seluruh tubuhnya diikat tanpa daya, Teratai berteriak histeris.

Chen yang menyaksikan Teratai histeris karena melihat pembunuhan terhadap Karang kemudian memutuskan bahwa Teratai harus dianggap gila, tidak waras; untuk melindungi eksistensinya sebagai seorang Tuan. Semua yang dikatakan Teratai tidak boleh dipercaya oleh siapapun di dalam kompleks.

Di akhir kisah tragis ini, Karang mati, Teratai yang divonis gila oleh seluruh kompleks tetap dipertahankan sebagai istri ketiga dan tetap menjadi bagian dari kehidupan kompleks sekalipun telah dianggap invalid karena ‘tidak waras’, dan akhirnya Chen kembali mengambil istri untuk menggenapi jumlah istrinya. Bambu, istri keempatnya, penasaran melihat penampilan Teratai yang cantik, bersih dan tetap kelihatan cerdas sekalipun dikatakan gila oleh setiap orang.

Kisah poligami ini perlu untuk dibaca tak hanya oleh kaum wanita, tetapi juga penting bagi kaum pria. Betapa kaum wanita tidak hanya dipermainkan cinta dan kasih sayangnya tetapi juga belajar tipu daya untuk mempertahankan posisi sebagai ‘yang tersayang’ bagi sang suami. Tak terkecuali istri pertama yang jelas-jelas telah tersingkir oleh istri-istri berikutnya.




Poligami selalu memberikan luka dan nestapa bagi kaum wanita. Siapapun pelakunya, apapun alasannya, terlepas dari perekat agama, bangsa maupun kasta. Dalam ribuan kisah cinta bersegi ini, poligami bukanlah milik sebuah agama atau bangsa, melainkan semata persoalan kaum pria dan wanita. Poligami perlu dibaca sebagai sebuah model perkawinan yang menestapakan hidup dan hati kaum wanita.

Novel Raise The Red Lantern yang telah diterjemah dengan judul  Persaingan Para Istri ini merupakan novel legendaris karya Su Tong yang telah difilmkan dengan bintang utama Gong Li. Lika-liku poligami di tengah masyarakat China.

Novel terbitan Serambi ini akan semakin menarik seandainya nama-nama dari para istri dan pelayan tetap menggunakan nama China sesuai dalam novel asli tanpa menerjemahkannya pula sebagai Sukacita, Mega, Karang dan Teratai serta Bambu dan pelayan Walet. Kekentalan nuansa China akan semakin terasa dalam alur ceritanya dengan tetap mempertahankan nama-nama China mereka.

Novel ini menambah khazanah novel terjemahan yang turut menyemarakkan bacaan sastra di tanah air. Dari novel-novel semacam ini pembaca dapat mempelajari nila-nilai kehidupan serta  budaya manusia di belahan bumi lainnya. Berikut persoalan kemanusiaan yang sangat kompleks. Khusus tentang poligami, di tanah air kita, kisah poligami bukan semata kisah cinta bersegi dalam bungkus estetika sastra, melainkan fakta yang tak kasat mata.

Jangan pernah berpikir bahwa realitas poligami semata hanyalah milik komunitas muslim saja. Membaca konteks poligami, di belalahan bumi manapun, fokuslah pada relasi perkawinan laki-laki dan perempuan, jangan pada agama yang dianut mereka.

Poligami adalah pilihan personal, bukan intruksi budaya atau agama manapun sekalipun memang tak dipungkiri bahwa pembolehan poligami dalam konteks keagamaan (baca: Islam) memang ada. Sekali lagi, pahamilah poligami bukan sebagai sunnah yang dimuakkadkan (sangat disarankan), tetapi sebagai mubah (pembolehan) bersyarat. Dan syaratnya amat jelas digariskan dalam kitab suci. Yaitu, jika engkau tak mampu bersikap adil (termasuk dalam memberikan kasih sayang), cukupkan dirimu hanya dengan satu istri saja. Bukankah begitu?

Jika kemudian segolongan laki-laki apologis menganggap ini sebagai sunnah, sebagai cara ibadah menolong dan mengentaskan seorang perempuan dari garis kemiskinan, pertanyaannya adalah; apakah menolong harus pulalah dengan menikahi? Tidakkah itu hanya sebuah kamuflase birahi yang ditutup-tutupi?

Dalam konteks lainnya, poligami mungkin saja akan mendatangkan pahala dan tidak memiliki keharaman sekalipun dalam banyak realitas selalu diawali dengan perselingkuhan yang tentu saja tingkat keharamannya sudah sama-sama diketahui. Bagaimana jika poligami yang mubah dan cenderung diklaim sebagai sunnah Nabi ini menimbulkan penyengsaraan oleh laki-laki pada istri pertama dan penelantaran hidup pada anak-anaknya dari istri pertamanya?

Poligami akhirnya mendatangkan suatu dosa kemanusiaan. Sesuatu yang halal dan mubah tapi kemudian dalam perjalanannya menjadikan manusia bernama laki-laki amat kuasa untuk menyengsarakan batin perempuan yang menjadi tanggungjawabnya di hadapan Tuhan dan sesama manusia, yaitu istri pertama.

Dan tentu saja, para istri yang dipoligami ini, diinginkan atau tidak akan berada dalam satu alur persaingan tak tercegah. Entah itu persaingan mendapatkan perhatian dan kasih sayang maupun persaingan dalam mendapatkan aset materi dari suaminya.

Jadi, masihkah Kau akan berpoligami, hai, para suami apologis?

 

Karduluk, 2023

  

 

Joe Mawar, penulis novel, penyair dan motivator. Bekerja sebagai aktivis sosial dan pemerhati poligami. Tinggal di dusun Blajud Karduluk.

 

0 Comments