Selamat Datang - DI Blog KATA BINTANG, tempat berproses dan berproduksi serta saling berbagi. Tempat yang nyaman dan saling menguatkan. Tempat para Bintang Memijar.

Nok Ir: Segudang Dendam

By Nok Ir

TADABUR KEMATIAN


Memastikan kematian, duhai mendebarkan
Serupa wulan-wulan yang tak ingkar tandang
Gemintang ramai bergelayutan di angan keinginan
Laksana gelinjang pertemuan awal sepasang
Debur dada tak tertata, pipi merona senyala saga

Mentadaburi kepulangan betapa sarat rasa terjungkal
Nun syahdu serupa kidung terlantun rerindu
Menjerang kesudahan segala urusan
Bagaimana akhir segala akibat?
: terjelma apakah ruhku di sana
seelok bidadari bersayap seperti peri
atau, seonggok daging anyir berkubang jeri

Ruas-ruas jemari tengadahkan berkah
Bibir membulirkan dzikir mengalir
Gerimis mata untaikan sungai pinta

Duhai, debar kematian
Betapa syahdu jika beriring berangkulan
Sekawanan amal salih merembang berat di timbangan
Derma saat di dunia menjadi kerabat dekat



AJARI KAMI MENGGALAH DOA

: rapal, rapalkan pinta, kami membusur pinta yang gemantung di angkasa


Tetiba kami pun serupa kanak-kanak jelata
Meringkuk berbungkus sarung dengan halaman juz amma terberai tak beruntung
Suara yang terbata, buah dari bibir yang teramat jarang melantun dzikir
Lutut gemelutuk, sebab jejak hanya berujud rangkak
Lidah kelu bergumul buih lautan tipu
Dahi berdaki tak sebab rajin mengaji puji
Tangan- tangan yang tak henti mencakar nazar
Raga tanpa jeda renangi segara luapan alpa
Rapal
Rapalkan pinta
Kami membusur pinta yang gemantung di angkasa

Sumenep, 2021


DI KAMPUNG SANTRI


Detak gemelatak rancak
Kanak-kanak berpacak
Hilir mudik riang mengulik
Berlalu lalang terlintang pukang
Di lantai kayu bergeladak
Menyunggi kopiah mewarni meriah
Balutan hijab lebar terjuntai di lantai
Kitab-kitab tergamit lekat
Lembar mushaf terdekap erat
Mengeja juz amma dalam nganga
Di tanah jauh, teramat biru rinduku
Dirudung kampung santri
Gegap di tangis nyali

Sumenep, 2021


PEREMPUAN BINAR DI PINGGIR TUNTANG



/1/ Tautan puzzle kisah kita, terpahat lekat di langit-langit jiwa, menjantungi semesta, memukau bumi, meliuki seputaran hati, pahatannya menjadi penatah langkah, mengukir alir guratan nadi nadi, semaikan bulir bijih kebajikan , mengikat erat hasrat-hasrat yang kadang , bersamai sanubari selaik pijar matahari

/2/ Berlembar perca sketsa, nyalang nyata di bentangan alir pinggir Kali Tuntang, gaung gambang keroncong Pecinan, tetabuh bedug kembar Grebeg Besar, bunyi gemeletak rumah geladak bapak, temuju gemunung ladang garam, mengamis di bibir pantai rantauan, menerpa cengang wajah belia, menari di seputaran rangkak usia, hingga menghantar ke gerbang lain jaman

/3/ Restu yang kian utuh menyentuh, telah memintaku menjadi inang berlabuh, menjamur lamur berakar gelegar tegar, tempat menyemat lintasan kenangan yang berlalu lalang, tawa ibu di karnaval perayaan di klenteng Watu Gong, kilat petasan di sekujur kuda Sam Poo Kong, mengudap harum manis bertabur kismis, jajanan mewah di lidah kami yang tak lumrah, membuatku mengulum cemburu yang meruah

/4/ Langkah tingkah tak kenal lelah, menutu lesung hingga jemari melepuh membusung, mempiara dengan ria ketigabelas gantungan jiwanya, tawa yang senantaiasa mengembangkan awan, senyum ranum yang berkuntumkan putik harapan, pelukan yang tak kurang kehangatan, dalam kubang kepapaan tetap memasang lampion keberuntungan bagi suar anak-anaknya

Demak, 2021



PEREMPUAN BERBAHU TUNGKU


: andai musim tuai berkasih dapat tunai kubeli kembali, maka akan kuarak ke langit terpuncak mantra pinta untuk meminjam barang sekejap rengkuh pelukmu menghangati

Perempuan berbahu tungku
menjilat kerjap bulir air mata
menelan peluh keluh subuh
ditabirkannya sebagai kasut masa
tanpa nohtah jengah ataupun decak lelah
tetap membulatkan gumul niatan
menyemai benih di bentang musim rawatan
bekal perjalanan jaman

Perempuan berbahu tungku
membolakan buliran segara daya
pada kiriman iklim hingga pergantian cuaca
semakin cermat menambal robekan luka dadanya
kian gigih menyumpal nadi yang mengangakan
makin giat lagi menabur serbuk penyembuh di celah jeda
menepis jumawa semata demi lega nyawa tembuninya
utamakan gegas langkah hingga titik nadir terakhir

Perempaun yang berbahu tungku
Sejatinya adalah cundamani bumi
Mengembang segar, bubungkan
meniupkan hidup, puja terberkati

Sumenep, 2021


PERAMU JEJAMU

: Bu

Ku ruwat kedukan tali tembuni
Dari punjer rahimmu
Teramu berkat dedoa purba
Pada seduhan jejamu asa
Pada kesah piara
Pada gegaung pinta
Pada terang harapan
Menyisir hilir segala getir
Memupus ingsut lara luka
Didihkan tungku belanga ramu
Menggenapi rambu-rambu
Kala yang menggelantungkan usia
Demi debar gelegar kerberkatan
Kibar kejayaan anak jaman

Demak, 2021



DI GULAT RINDU


Kita pernah jumpa di stepa berimbun organzadan ingin selamanya
ingin mengabadi, kekal dalam sejati
selaik oase dan padang Kalahari, menyempurnai
saling mendayakan, mengaliri sejuk di setiap ufuk
bergantian menorehkan lukisan kenangan
bagi sepenggal kisah segera tersemoga

Di kelam kita pernah tenggelam
menabir keliaran reranting rerinduan
langlangi belatantara halang ruang
memutik cantik berkat saling memantik
acapkali tenggelam, lalu sebentar kemudian mengambang
namun, tetap mampu bertahan riang

Di kelam ini kita suakan naluri
terguncang berkali-kali
terjungkal berulang-ulang
sering terbanting, terpelanting
memanen duka, melebam di sekujur jiwa
sejumlah dera tertuai setelahnya
bilur-bilur luka, meninggalkan bekas jeda
tak sekadar sebentar, terkadang
entah hingga bila kita bisa memungkasi
segala rupa yang berbau rindu

Sumenep, 2021


MUSIM BERKASIH KERINDUAN

: Kepada Yang Mangkat Dengan Hebat

Embaraku mengembang langlangi jumantara
Pijar mercu suar berkelipan menggempar
Kayuhan rakitku seolah berderir rumit
Terjal aral rintang sepanjang haluan
Rakit yang tak lagi genap, namun berdayakan harap

Pupil matamu tak lagi kutemu berdiam di kota itu
Sedemikian, tlah pudar benar
Pojok Alun-Alun terhenti mengalun
Jalan-jalan berceruk enggan menggeliat masyuk
Riak kali tetiba meninggi ingin merambah matahari
Sohorkan semarak Grebeg Besar di sepuluh awal Dulhijah
Kalender peradapan purba di warsa metro gempita

Kupasung serumpun simpul ingatan usang
Tertuju kearahku berpuluh tahun silam
Seolah mencabik cabik ulu menyitir tanda ajakanmu
Mengajakku memulangi bincang teritis kenang
Mengerat-erat jiwa agar turut menyemarakkannya

Lintas Pecinan berkalang toko berjajaran bertabur warisan
Manisan mangga dalam wadah-wadah kaca menggugah selera
Tawa kawan sepantaran saling berkejaran di angan
Paras binar Mak Cho, Cik Lily serta Nyah Njie lincah menari
Beranda Poo An Bio tempat kita bermain petak umpat
Di pojok selatan warung bapak menjajakan memori
Kian ngangakan luka duka sebab ingkari kerinduan

Kudiam tergugu pada sendu biru
Betul-betul sempurna, seperti yang terduga
Suatu masa, harap rengkuhlah yang kan melengkapinya
Namun masa lebih dahulu meyematkamu sebagai kenang
Berpulang seolah berbarengan, seperti telah terjanjikan

Yang Maha Menetapkan,
Yang mengabu biru, mangkat dengan hebat
Melebam ungu berdiam di jantung ulu
Debar ini menjelma degup haru
Ajari kami mengemas jalu rindu, lapang merawat kenang

Sumenep, 2021



KAU SUNTING AKU DULU, SEBAGAI PEREMPUAN PERDU

: Di Pebruari


Kau sunting aku dulu, sebagai perempuan perdu
Bersemu rona merah jambu pijar di pipi-pipiku
Debaran dada menggelora sesangatnya
Mendapati kerlinganmu meruntuk bertubi-tubi
Menir bermenit berlalu serupa lintas kupu-kupu
Lesat memecah gebu

Kau sunting aku dulu, sebagai perempuan perdu
Setelah rimbunan waktu berkejaran menggayuhku
Reranting masa menggempar seketika
Hiruk pikuk penanya saling bertegur sapa
Mencoleskan kalimat; siapakah ia ?

Kau sunting aku dulu, sebagai perempuan perdu
Ketika rautku memawar tak bertulang
Kelopaknya tanggal demikian pelan
Luruhkan hamparan tilam yang lama tergelar
Seperti kisut walau sesamudera dzikir kerap beringsut

Kau sunting aku dulu, sebagai perempauan perdu
Di Pebruari seperempat abad lalu
Di musim kawin para peri, pinang hawa cakalang

Sumenep, 2021



SERENADA NESTAPA


Di tanah saga berurat air mata
Pinggir siring tampak terguncang miring
Hamparan karang berlubang mengurai anyir
Tebaran sirip riuh mengadu nasib

Jorang menjelma bayang layang
Sekian lama tak terbentang, terjungkal
Tambangan beku. Menabir jemu
Pagan diam terpancang

Luka menganga
Menyengat perut anak laut
Nyawa tergadai. Mengumbar andai
Di pundak waktu tambak beralih tuan
Saling merasa asing

Sumenep, 2021



DEWI CUNDAMANI


Hiasan sanggul dewa dewi
Tersunggi bertubi-tubi
Penuh manikam, taburan intan intan
Solek keemasan, raih para mempelam
Pijar kejora tanpa memilih rupa
Gegapkan malam malam semesta

Menyunting mata cundamani
Belia menari nari
Gelang gemerincing berteriak nyaring
Hasrat pemudinya berpaling
Jiwa pemuda sontak tergiring
Lenggak lenggok saling mengerling
Pikat tak terelak

Lidah cundamani
Menyembur mantra liur suci
Menggelar pelaminan
Tilam sedia terhampar
Dalam gemerlap menenggelamkan

: sesuci cundamani, di dekapnya ku lena, terkoyak foya, terpagut dunia

Sumenep, 2021



SEGUMAM DENDANG

: Di Kaki-Kaki Khatulistiwa

Kemarau lalu,
kita saling mengulum sipu
memilah-milah kesah
antara segaris lintang, garis membujur

Jerang jeda kita terlukis nyata
membilah dua kutub, poros rotasi belahan sunyi
tepat di lintang ekuator, jarak kesenyapan kian masam
membuntalkan asa maya, lesat jauh dari nyata

Ekuinoks pun luruh, sebidang lurus dengan khatulistiwa
memaksa kita menjejak di masa yang sama
dua belas jam di cerlang, dua belas jam di kelam
setakdir dalam hiruk alur pikir

Kemarau menjelang,
telah kita buntal semusim impian
iklim iklim ekstrim kian menjarang intim
mengulum imajinasi di sebejana akumulasi nyali

Evenaar,
mengajarkan kecermatan
jarak bentang dua sisi ilusi
tak kan melebatkan hujan hakiki, pulang ke azali
terkecuali, pandai mengaca diri


Sumenep, 2021



RONA KHATULISTIWA


Bianglala seperti tengah menelan durja
Rona pias gumamkan racau teramat memelas
Curah matahari riuh mencaci maki
Kilat langit seolah sabetan puluhan arit
Cakrawala putus asa menyemilir angin tak biasa

Separuh bumi utara kelam, beraroma bahaya
Separuh lainnya merajuk, berparas buruk
Berkat tikai yang tak kunjung usai
Menggelar perhelatan genderang perang

Mulut kutub-kutub bumi diam mengatup
Ledakan meriam serupa kudapan menjelang malam
Dentum mesiu bersahut sahut ngilu
Berselang seling di antara bunyi senapan mendesing

Anak-anak berebut mangkuk berisi remah dan koyak kemah
Di bilik beratap kulit kayu ibu-ibu sibuk memerah susu
Pemuda bertanya-tanya kapan lagi bisa bermain rebana
Gadis remaja merajut asa bilakah pinangan menyambanginya

Di khatulistiwa jiwa
dua kubu saling riuh berseteru
perebutkan kuasa kejumawaan
tanpa melongok iklim yang sibuk memagut musim

Sumenep, 2021


DAUR ANGIN TIMUR


Langit melahap gelap
Awan gemawang, embun menggantung
Penuhi lintasan cakrawala
Mendaur sepanjang kurun umur

Luapan uap hulu, hilir, sungai, laut, lubuk hingga kedung air mata
Bersambung pancaran pijar matahari
Menjulang, membumbung tinggi
Tembus pintu pintu imaji
Lalui jalan evaporasi

Di kerajaan angkasa
Uap uap menggalang hasrat
Menjelaskan bejana bejana embun
Basahi jiwa bergolak tantrum
Demikian kondensasi menyempurnai

Kubangan udara panas hinggap mengikat
Kumpulan titik embun kian memadat
Gumpalan awan semakin meracau runyam
Liur riuh meniup butiran air
Tuju lokasi yang dikehendaki
Suhu terendahlah yang disukai

Di inti kondensasi, tetes hujan lahirkan embun
Melipir di selambu mikroskopi
Sedang yang tersinggung atmosfir, kembali membuntal hangat
Lalu menguap

Sumenep, 2021


ANGIN

; Dev Nairda

Menyapa pipi gembil
Mengetuk-ngetuk bibir mungil
Mengelam dalam binar pupil
Gelitik di cuping telinga pink
Dev Nairda dibalut gaun ceria
Berputar-putar kibarkan scraft dewangga
Hadiah istimewa di kelahirannya
Tersimpan dalam derai tawa
Mengusik mimpi pagi
Mengajak dendang para padi
Sibak gelora segaranya
Ajak selami aruh dunia
Dev Nairda terpana-pana
Membuka mata sebundar bola
Demi dirasa angin berkabar asa
Mendatangkan tiba perjaka
Tandang berkendara kuda berpelana
Menjemput langit semesta
Pelangikan angkasa berdua
Berikut setangkup kuntum bunga
Penanda searah seia

: pudar pelukan bunda
samar-samar tiada
serupa sirnanya

Sumenep, 2021





Nok Ir, nama yang tersemat pada seluruh karya dari Hj. Khoiroh, S.Pd. SD. Menulis puisi dan cerita sejak usia remaja. Aktivis Komunitas Kata Bintang ini terlahir di Demak, 28 Januari, kini tinggal di Sumenep Madura. Puisi dan cerpennya telah terhimpun dalan puluhan antologi bersama kawan penyair maupun penulis di regional maupun nasional, serta dua antologi tunggal Jie, 2020 dan Tingkap, 2021 telah ia telurkan. Salah satu puisinya mendapat penghargaan Puisi Terbaik Pertama dalam event Antologi Manuskrip Bintoro.

Email : nok.ir45@gmail.com

0 Comments