Selamat Datang di Galaksi para Bintang - - Selamat Berbagi - - Selamat Berkarya. "Kita adalah bintang di langit masing-masing."

Legitnya Jubada Karduluk

Ini perjalanan pertama Robi ke rumah nenek di Madura. Kali ini ayah dan ibunya mengajak Robi mengendarai bus umum menuju tanah kelahiran ayahnya.

“Jubada jubada jubada…” teriak penjual jinjing saat bus yang ditumpangi Robi berhenti di terminal Pamekasan.

Mendengar nama yang begitu asing bagi Robi, dia merajuk ke bahu ibunya.

Melihat putranya bergelayut, Ayahnya mengerti kalau Robi ingin dibelikan jajanan yang ditawarkan pedagang di depannya.




“Robi mau beli jubada?” Tanya ayah.

Robi mengangguk.

“Berapa, Bu?”

“Sepuluh ribu aja, Pak.”

“Baiklah, saya beli dua ya.”

Robi terlihat sumringah melihat jajanan yang baginya asing ini. Dia berucap terima kasih pada ayah. Dia tidak langsung memakannya, tapi masih menimang-nimang jajanan imut di tangannya.

“Ini jajanan khas di rumah nenekmu loh, Robi. Nanti di rumah nenek kamu bisa lihat langsung yang buat jajan ini.

“Wah, yang benar, Yah? Nanti aku ingin sekali lihat cara membuatnya, ya? Ini kok imut sekali, hanya sekecil telunjuk jari, diikatnya pakai apa, Ayah?”

“Pakai daun siwalan, Robi. Itu loh yang buahnya pernah kamu makan saat nenek ke rumah. Orang Madura menyebutnya buah Ta’al. Nah, daunnya itu yang dibuat mengikat ini.” Ayah Robi dengan sabar menjelaskan pada putranya.

“Oh iya Ayah, aku ingat. Yang buahnya dibuat campuran es cendol sama ibu, kan? Mirip kolang-kaling tapi lembut?”

“Betul sekali.” Ibu menjawab dengan senyum.

“Kamu suka, kan?” tanya ayah

“Suka banget, Ayah. Apalagi pas pakai gula yang merah itu, Yah.. enak banget. Seger rasanya.”

“Nah, gula itu juga terbuat dari pohon siwalan ini. Nanti, deh kamu bisa lihat pembuatannya semua di dekat rumah nenek. Mau lihat pembuatan gula merah apa jubada ini?”

“Jubada dulu, Yah. Aku penasaran sekali bagaimana membuatnya sampai jadi makanan seperti ini.”

“Baik, nanti biar kamu bareng sepupumu Soleh ke rumah Buk Sumina. Di sana produksi jubada yang terkenal di Madura. Coba deh kamu makan ini, enak gak?”

Robi memakannya setelah membaca doa.

“Hmm enak, Yah.. nanti pulangnya beli yang banyak ya. Biar bisa bawakan teman Robi di sekolah.”

“Iya dah.”

Robi menikmati jubada yang dibelikan ayahnya sambil terus berpikir bagaimana cara membuat tali yang mengikatnya. Bagaimana juga cara menggulungnya menjadi kecil seperti yang dia lihat saat ini.

“Lapangan Karduluk..!” tiba-tiba ayah Robi bersuara lantang sambil berdiri. Bus melaju pelan lalu berhenti tepat di sebuah lapangan di kiri jalan.

“Kita sudah sampai, ayo turun!”

“Yee.. kita sudah di rumah nenek. Aku gak sabar melihat cara pembuatan jubada.” Kata Robi kegirangan sambil turun dari bis.

“Iya, besok kamu bisa ke sana sama mas Soleh. Sekarang ketemu nenek dulu.” Kata Ibu sambil menggandeng Robi.

Rumah nenek tidak jauh dari jalan Raya, mereka hanya berjalan sekitar seratus meter untuk sampai di rumah nenek.

**

“Mas Soleh, yuk antar saya ke tempat pembuatan jubada. Aku ingin sekali melihat bagaimana jubada dibuat.” Ajak Robi keesokan harinya.

“Ya, Soleh, sana bawa adikmu. Dia penasaran dari kemarin saat beli jubada di bus.” Ayah Robi menimpali.

“Baik Om, setelah sarapan kita ke sana ya.”

“Ok deh..” Robi terlihat sangat bersemangat. Dia memang anak yang rasa ingin tahunya besar.

Robi dan Soleh sarapan bersama. Dia tidak sabar untuk segera menuju rumah Bu Sumina.

“Yuk, kita go.” Ajak Soleh saat keduanya sudah sarapan.

Mereka berdua pun berangkat menuju rumah Bu Sumina yang letaknya tidak jauh dari rumah nenek. Hanya butuh waktu beberapa menit saja untuk sampai di tujuan.

“Assalamualaikum,” ucap keduanya saat sampai di rumah Bu Samina.

“Waalaikum salam, eh kamu SoLeh. Ini siapa?” Kata bu Samina yang mengenal Soleh.

“Ini sepupu saya yang dari Jakarta, Bik. Robi anaknya Om Amin.” Soleh menjawab sambil duduk di dekat Bu Sumina yang sedang membuat adonan jubada.

“Oh Iya, wah sudah besar rupanya. Udah kelas berapa nak?” Tanya Bu Sumina pada Robi.

“Kelas 5 SD, Bu.”

“Oh seumuran sama Sinta, cucu Ibu.”

“Iya, Bi. Dia kesini mau lihat langsung pembuatan jubada katanya.” Kata Soleh menjelaskan.

“Iya, Bi. Boleh kan, Bi?” Tanya Robi.

“Boleh-boleh, silahkan lihat-lihat dan tanyakan kalau kamu tidak mengerti.”

Robi pun berkeliling melihat langsung bagaimana jubada dibuat.

“Kok bisa ya dibuat kecil mungil begitu dan diikat dengan rapi. Teliti banget pengerjaannya.” Kata Robi pada paman Sunam yang sedang mengurut daun siwalan menjadi pengikat yang tipis.





“Iya, Cong. Mengirisnya memang harus teliti dan hati-hati.” Jawab Paman Sunam.

“Ini bahan Jubada terbuat dari apa saja ya, Bi?”

“ini dibuat dari air legen, atau ada yang menyebut air nira. Kalau orang sini menyebutnya la’ang. Air legen dicampur tepung jagung, tepung tapioca dan gula pasir dengan takaran satu banding satu.” Jawab Bu Sumina menjelaskan.

“Oh, jadi kalau pakai satu kilogram, semua bahan tadi satu kilo gram ya, Bi?”

“Ya benar. Ada juga yang mengganti air legen dengan air biasa tapi gulanya pakai gula merah. Tapi kalau bibi pakainya air legen, sudah warisan turun temurun reepnya. Jadi rasanya juga beda.”

“oh jadi bisa pakai air saja. Terus bagaimana proses pembuatan jubada Bi?”

“Pertama kita rebus air legennya dulu sampai mendidih. Lalu masukkan tepung jagung, tepung tapioca dan gulanya dimasukkan ke dalam rebusan air legen tadi. Setelah itu diaduk sampai mengental.”

“Kayak bikin dodol ya, Bi?”

“Ya, memang seperti bikin dodol. Tapi yang ini lebih encer adonannya.’

“Direbusnya berapa lama, Bi?”

“Sekitar dua jam lebih, sampai tiga jaman lah. Setelah itu didinginkan dulu, baru dibentuk gulungan kecil dan potong sekitar dua atau dua setengah cm. setelah itu dijemur sampai kering. Baru setelah kering tiga, empat atau sepuluh potongan kecil diikat dengan tali yang dibuat paman itu, yang terbuat dari daun siwalan.” Bu Sumina menjelaskan dengan sabar.


Sumber gambar: Dokumen Pribadi


“Oh jadi begitu ya, Bi. Teryata terbuat dari tepung jagung dan tapioka ya. Tapi yang terasa kayak gula merah atau legennya saja.” Kata Robi sambil melihat jubada yang sudah dikemas dalam plastik.

“Iya benar, ada juga yang menambah rasa seperti ditambah jahe. Tapi kebanyakan orang lebih suka jubada yang rasa asli seperti yang bibi buat ini. ini makanan khas karduluk yang dikenal banyak di Kapedi. Kami memang sudah terbiasa membuatnya sejak kakek nenek dulu. Karena kalau gak pandai mengolah, bisa jadi dodol yang kamu bilang tadi.” Kata Bu Sumina lagi.

“Iya Bi, kok saya baca di internet katanya jubada makanan khas dari Kapedi, bukan Karduluk. Kapedi itu dimana?” Tanya Robi lagi.

“Kapedi itu ke arah timur dari sini. Setelah desa Guluk Manjung ada desa namanya Kapedi. Di sana ada pasar yang banyak dijual jubada. Makanya orang-orang mengenalnya Jubada itu dari Kapedi, sedangkan yang membuat kebanyakan orang Karduluk.”

“Oh iya Bi, ini biasanya dijualnya berapa?”

“Murah kok, satu plastic berisi 3 ikat ini harganya seribu rupiah saja.”

“Saya mau beli nanti kalau mau balik ke Jakarta, Bi. Tapi masih mau bilang ayah dulu.”

“Iya Cong, ini kamu makan dulu.” Bu Sumina menyuguhkan sepiring jubada dengan air.

“Gak usah repot, Bi. Ini saja saya sangat berterima kasih sudah diijinkan dan diajari cara membuat jubada.” Robi menolak halus.

“Tidak apa-apa. Makan saja gak usah malu.”

Robi dan Soleh saling pandang dengan malu-malu lalu tersenyum dan segera menikmati jubada buatan Bu Sumina. Setelah minum air, Robi pamit untuk pulang. Dia sangat bahagia karena sudah dapat ilmu tentang pembuatan jubada. Besok dia akan mengajak Soleh ke tempat pembuatan gula merah.



PROFIL WIDAYANTI ROSE

Widayanti Rose, Guru Sekolah Dasar dan penggiat Literasi dari Kabupaten Sumenep Madura. Menerbitkan beberapa Buku teks pelajaran dan nonteks ber-ISBN. Salah satu buku karyanya berjudul Batman Teacher dinobatkan sebagai Karya Terbaik dalam Diseminasi Literasi Nasional Kemendikbud Tahun 2017. Penulis puluhan buku ini dipercaya sebagai Instruktur Nasional Guru Pembelajar Kemdikbud, Instruktur Nasional Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan, Guru Inti Peningkatan Kompetensi Pembelajaran, Instruktur Provinsi K13 Matematika HOTS, Pengajar Praktik Pendidikan Guru Penggerak Kemdikbud, Anggota Tim Konten Komunitas Belajar Guru Penggerak dan Fasilitator Guru Penggerak. 
Penulis dapat dihubungi melalui email : widayantirose@gmail.com.



2 Komentar

  1. Tiada kata yang lebih indah bagi seorang penulis pemula kecuali hanya ucapan Bahagia sekali sy bisa diterima di Komunitas Kata Bintang๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™

    BalasHapus