Selamat Datang - DI Blog KATA BINTANG, tempat berproses dan berproduksi serta saling berbagi. Tempat yang nyaman dan saling menguatkan. Tempat para Bintang Memijar.

Calon Istri

By Elen's

"Cie cie ... Pacarnya Kokom, cie ...." Mereka terus saja meledekku. Menjodoh-jodohkan aku dengan Qomaria. Gadis dekil dengan rambut jarang disisir, dan kulit sawo busuk. Tubuhnya gemuk dengan tinggi 15 cm di bawahku. Jelas saja aku tak suka. 

 


Tapi bukan tanpa alasan mereka meledekku seperti itu. Ini semua karena kedua orang tua kami, yang notabene berteman akrab sejak kecil, berniat untuk menyambung silaturahmi dengan menjodohkan anak-anak mereka. Kabar ini beredar hampir di seluruh kampung, mereka berfikir bahwa orang tua kami benar-benar ingin besanan.  Sialnya, aku lebih dulu keluar sebagai anak laki-laki, dia lahir dua tahun kemudian sebagai anak perempuan. 

Semakin gencar lah berita itu beredar. 

Bukan hanya soal fisik yang tidak menarik, tapi Qomaria adalah anak yang pendiam. Dia sama sekali tidak terlihat ceria seperti Sulis, misalnya. Atau selalu bergaya seperti Marni. Dia jarang berkumpul dengan teman sebaya. Hanya duduk sendiri di teras rumah, atau bermain boneka yang terbuat dari pelepah pisang, karya ayahnya. Jangankan berteman, bertegur sapa saja aku enggan. 

Suatu hari, aku pulang sekolah seorang diri. Tiba-tiba, Lutfi datang dengan lima orang teman lainnya. Lagi-lagi mereka meledekku. 

"Cie ... Firman, cie ... Pulang sama pacarnya. Pantesan tadi diajak pulang bareng gak mau. Cie ... " Aku tak mengerti dengan ucapan mereka. Aku memang pulang belakangan karena harus menemui Bu Fatma di kantor, terkait persiapan untuk lomba cerdas cermat tingkat kecamatan Minggu depan. 

 Saat menyadari sesuatu, aku menoleh ke belakang. Ternyata Qomaria berhenti tak jauh dariku,  dia menunduk sambil memegang tali tasnya. Pipinya bersemu merah, tersipu. 

Saat itu aku tahu, senyumnya cukup manis untuk dinikmati. 

Waktu terus berjalan, kami tumbuh menjadi remaja. Hanya saja, teman-teman tak lagi meledekku seperti dulu. Mungkin karena penampilan Qomaria yang sedikit berbeda. Kulitnya jadi sawo matang, rambutnya sering diikat rapi. Dan dia juga memakai taburan bedak di wajahnya. Itu membuat dia terlihat sedikit lebih enak dipandang.  

Ah, entah. Entah di pandangan banyak orang, atau hanya di mataku saja. 

Akhirnya aku mengakui satu hal, bahwa aku mulai menyetujui keinginan ayah untuk menjodohkan kami. Terlebih saat aku tahu, cintaku tak bertepuk sebelah tangan.

Aku sering mendapatinya diam-diam memperhatikanku. Setiap hari Jumat, dia selalu menungguku lewat di depan rumahnya, lokasi masjid kampung kami memang harus melewati rumah Qomaria. Saat aku pulang, tak ada Kokom di depan rumah, tapi dia mengintip dari jendela kamarnya.

Begitupun saat aku berangkat sekolah. Dia selalu tahu jadwalku pulang, karena sekolah kami memang berbeda. Orang tuaku hanya mampu memasukkan ku ke sekolah swasta dengan bantuan beasiswa atau surat keterangan tidak mampu dari kepala desa, sedangkan Qomaria masuk ke sekolah negeri dengan SPP lima puluh ribu perbulan, uang yang bagi kami, sayang untuk dipakai sekolah. Mending untuk beli beras dan garam saja agar cukup untuk makan sekeluarga. 

Hari itupun tiba, saat aku mulai masuk perguruan tinggi yang lagi-lagi, hasil beasiswa, Ayahku dan ayah Qomaria benar-benar ingin besanan. Tentu saja aku tak menolak, dan aku yakin, Qomaria juga akan senang. 

Aku mulai berkhayal akan melewati hari-hari yang menyenangkan. Terlebih saat wisuda nanti, aku sudah memiliki seorang pendamping untuk foto bersama. 

Iya, aku mulai berkhayal. 

Dua perempuan berbeda ukuran nampak sedang berbincang. Seorang perempuan jelita dengan gamis hijau toska itu berkali-kali menampakkan senyum ramahnya, menolak ajakan tuan rumah untuk mampir ke terasnya. 

"Mari masuk, biar lebih enak ngobrolnya," ucap perempuan bertubuh pendek dengan berat badan tak seimbang itu, malu-malu. Lahan tembakau miliknya yang luas memaksanya untuk berjemur lebih lama. Dengan penutup kepala seadanya dan sarung bermotif bunga yang dia pakai, membuatnya terlihat lebih tua dari umur semestinya. 

"Iya, terima kasih. Lain kali saja, si kecil gak dibawa soalnya," jawab perempuan bergamis toska itu sopan. Sesekali dia melihat ke arahku.

"Rencana lama mudiknya, Fir?" 

"Ndak, banyak pekerjaan di kota mertua. Nanti malam aku sudah pulang. Kami pamit dulu, ya." Aku mulai menyalakan mesin motor. 

"Ayo, Ma," ajakku pada perempuan bergamis toska yang tak hentinya tersenyum itu. 

"Mari,  mbak." Sekali lagi, dia mengangguk sopan lalu naik di jok belakang. 

Dari kaca spion, masih kulihat Qomaria menatap kepergian kami dengan tataoan yang ... entah. 

"Itu siapa? Kok papa minta mama  nyapa dia? Bela-belain turun dari motor segala. Masih saudara, ya?" Tanya istriku panjang lebar. 

"Bukan. Dia adik kelas dulu pas saya SD. Ayahku dan ayah dia berteman baik, gak ada salahnya kan kalau kita tetap menyambung silaturahmi meski keduanya sudah tidak ada." Aku menjelaskan apa adanya. 

Istriku mengangguk tanda mengerti. 

Seminggu setelah mereka membicarakan tentang rencana pertunangan kami, Ayahku meninggal karena sebuah kecelakaan. 

Dan ayah Qomaria, tak lagi punya alasan untuk melanjutkan rencana yang pernah mereka bicarakan. Terlebih karena istrinya memang tak pernah setuju dengan rencana itu, selama ini dia diam hanya karena menjaga perasaan ayahku. 

"Pak, si Firman itu anak orang miskin. Bapaknya saja bekerja di lahan kita, lalu bagaimana nanti dia bisa membahagiakan Qomaria? Mau nunggu warisan dari kita? Enak aja!" 

Kalimat itu kudengar langsung saat tak sengaja melewati dapur mereka yang terbuat dari bilik bambu. Seketika aku sadar, aku tak sepadan dengan keluarga mereka yang kaya, memiliki lahan tembakau dimana-mana. Sementara ayahku, hanya bekerja sebagai tukang cangkul saja. 

Nyatanya, persahabatan bukanlah alasan kuat untuk menjadi saudara. Karena ada harta yang dipandang lebih berkasta. 

Tapi mungkin mereka lupa, bahwa harta bisa dicari. Berbeda dengan teman sejati, yang akan berakhir hanya dengan mati. 


Jember, 21 Februari 2023

0 Comments